Kepalaku semakin terasa pening ketika lagi-lagi percakapanku dengan Mama tadi pagi kembali terngiang. Tiga hari, Mama memberiku waktu tiga hari untuk bertemu dengan orang yang akan kujadikan istriku, pasangan hidupku. Hanya tiga hari sebelum Mama memutuskan untuk menjodohkan aku dengan putri sahabatnya.
Aku bangkit dari kursiku yang nyaman itu dan menghampiri dinding kaca di belakang kursiku. Aku menatap sekeliling, gedung-gedung pencakar langit yang setinggi dan semegah perusahaanku memenuhi pandanganku. Aku mendesah dan menatap langit. Siapa? Siapa yang akan kunikahi?
Seraut wajah yang muncul di dinding kaca itu mengejutkanku. Belum sirna keterkejutanku itu, suara pemilik wajah itu memenuhi ruangan. Aku segera berputar dan semakin terkejut, hingga tubuhku reflek mundur dan menabrak dinding kaca itu, ketika pemilik suara dan wajah itu berdiri di depan mejaku.
“Anda baik-baik saja, Pak?” tanya Ellyn curiga.
Aku berdehem dan memperbaiki posisi berdiriku, hanya untuk menyelamatkan harga diriku yang terancam beberapa saat lalu. “Yah, sepertinya begitu. Ada apa?”
Aku menahan senyum ketika Ellyn menunjukkan ekspresi tidak percaya. Dia memang benar-benar mengenalku. Terlalu mengenalku, malah. Hanya saja, terkadang dia bisa sangat menyebalkan karena selalu membantahku. Bukan berarti dia memang suka membantah. Dia hanya tahu bahwa aku salah. Jadi meskipun itu menyebalkan, aku tidak punya alasan untuk balas membantahnya. Tidak perlu menjatuhkan harga diri lebih dalam lagi, bukan begitu?
“Saya hanya ingin mengatakan bahwa Pak Ryan sudah datang. Apa saya bisa langsung mempersilahkan dia masuk atau dia harus menunggu?” tanyanya sopan tapi tegas.
Sesaat aku terpesona pada gerakan ringan tangannya, entah ia sadar atau tidak, dan nada bicara yang efisien dan suaranya yang… tunggu, dia tidak sedang bernyanyi, kan? Astaga, apa yang sebenarnya terjadi padaku?
“Suruh dia masuk. Sepertinya aku memang perlu berbicara dengannya,” kataku.
Ellyn tersenyum, dan itu rasanya lebih seperti pukulan keras di perutku. Ia mengangguk pamit dan berbalik. Aku mengawasi gerak-geriknya yang efisien, tegas namun tetap anggun. Bukankah dia sempurna?
“Ellyn, tunggu,” aku memanggilnya lagi ketika dia baru membuka pintu beberapa senti. Aku berjalan menghampirinya dan setelah kami berada cukup dekat, aku menatap langsung ke matanya, yang membuatku gentar, tapi tetap nekat berkata, “Would you… ehm… marry me?”
Jika tatapan bisa membunuh, maka saat itu aku pasti sudah terbujur kaku tak bernyawa.
“Maaf, sepertinya itu bukan ide yang bagus. Permisi,” hanya itu jawabnya, lalu ia membuka pintu lebih lebar dan keluar.
Menggantikan sosok cantik nan anggun Ellyn, berdiri di depan pintuku sahabat baikku, Ryan, lengkap dengan senyuman lebarnya yang menyebalkan.
“Tidak ada cara yang lebih romantis, bung?” godanya.
Aku mengerang. “Aku perlu menghajar seseorang. Sepertinya Tuhan tahu karena dia mengirimmu,” cetusku sambil berbalik dan duduk di sofa di sudut ruangan.
Ryan tergelak. “Aku terkejut kamu baru melamar dia sekarang. Dengan cara yang sangat tidak romantis, apalagi sopan, lagi.” Ryan menggeleng simpati.
“Menurutmu kapan seharusnya aku melamarnya?” Aku mendelik galak padanya.
“Yang benar saja, Bram! Dia sudah menjadi sekretaris pribadimu selama lima, eh tidak, enam tahun. Ke mana saja kamu?”
“Entahlah. Aku terlalu sibuk mengurusi keluargaku,” balasku ketus.
Ryan mendengus. “Omong kosong. Kedua adikmu, Rietta dan Arinne, sudah menikah dan bahagia bersama pasangannya. Sementara ibumu tampaknya baik-baik saja. Kamu tahu apa masalahmu? Kamu terlalu keras pada dirimu dalam merasa bertanggung jawab pada keluargamu. Sejak Papamu meninggal, kamu semakin tidak memikirkan kehidupan sosialmu. Hanya keluarga dan perusahaan. Okelah, terkadang aku juga. Tapi itu tidak cukup, Bram. Cobalah bertanya pada hatimu, apa benar itu yang kamu inginkan?”
Aku terdiam, merenungi kata-kata Ryan. Tapi aku sudah terbiasa dengan keberadaan Ellyn. Maksudku, dia sama sekali tidak mengusikku. Aku merasa aman mempercayakan segalanya padanya. Aku merasa… hei, tunggu, sejak kapan aku merasa aman sejak Papaku meninggal? Aku mendongak dan mendapati senyum kemenangan Ryan.
“Sial,” umpatku.
“Jadi, sejak kapan?” Ryan bertanya.
“Aku sendiri sedang bertanya-tanya tentang itu,” dumelku. “Tapi…” Aku kembali teringat bagaimana caraku memintanya beberapa saat lalu. “Looser,” kataku pada diri sendiri.
“Yeah, memang,” tambah Ryan enteng.
Aku menangkup wajahku dengan kedua tanganku dan merasa sangat frustasi. Yang benar saja! Apa yang barusan kulakukan? Aku pasti telah menyakiti dan mengecewakan Ellyn. Bersikap begitu ceroboh dan pengecut. Ellyn pantas mendapatkan yang lebih baik dari itu…
“Tidak,” suara Ryan membuatku mendongak menatapnya. “Jangan bilang bahwa kamu tidak baik untuknya. Jangan mulai bersikap bodoh dan menjadi pecundang lagi, sobat. Kenapa tidak maju saja dan memintanya untuk mendampingimu? Kamu tahu yang terbaik untukmu, dan kamu tahu kamu memang baik baginya.”
Oh, tak adakah yang pernah mengatakan pada Ryan bahwa dia tampak seperti malaikat? Dan sejak kapan dia bisa membaca pikiranku? Ah, tapi peduli apa aku. Segera kuraih ponselku untuk menghubungi Mama. Tapi kemudian aku berhenti dan berpikir. Aku bangkit dan menghambur keluar untuk menemui Ellyn.
Gadis itu, seperti biasanya, menunduk di atas laporan-laporan dan entah bagaimana, masih tampak anggun. Ketika ia mendongak dan menatapku di sana, ia buru-buru berdiri dan tampak terkejut. Rona di wajahnya membuatku semakin yakin untuk bertanya, “Apa kamu juga mencintaiku, Ellyn?” Aku menatap gadis yang tampak sibuk menatap ke arah lain selain padaku itu, dan tersenyum. “Ellyn, pandang aku, tatap aku dan katakan bahwa kamu tidak mencintaiku karena aku mencintaimu, entah sejak kapan, dan aku ingin kamu menikah denganku.”
Perlahan Ellyn menarik napas panjang, lalu menatapku dan berkata, “Apa tampak sejelas itu? Apa aku semudah itu untuk dibaca? Lagipula, apakah tawaran itu masih berlaku setelah aku menolaknya?”
Aku tak dapat menahan tawaku. Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, aku memutari mejanya untuk menariknya ke dalam pelukanku, tempat di mana seharusnya ia berada.
Lalu aku mengangkat ponselku dan kali ini aku benar-benar menghubungi Mama. “Halo Ma, aku baru saja bertemu dengan jodohku. Aku tahu Mama sudah lama menunggunya. Maaf untuk itu. Tapi sepertinya putramu yang bodoh ini bahkan tidak bisa melihatnya meski dia sudah berada di sini sejak bertahun-tahun lalu.”
“Ini benar-benar konyol.” Aku mendengar Ellyn terus bergumam seperti itu dengan nada geli. “Oh, baiklah, mungkin ide pernikahan itu tidak terlalu buruk,” katanya lagi.
Untuk apa menunggunya
Jika kamu ada di sini
Untuk apa mengharapkannya
Jika harapanku aman bersamamu
Dia telah pergi
Dan takkan kuizinkan 'tuk kembali
Karena itu, tetaplah di sini
Yakinkanku kamu akan selalu di sini
Kupikir segalanya t'lah hilang bersamanya
Tapi kamu membuat segalanya tak berarti lagi
Tak penting lagi bila dia pergi selamanya
Karena aku yakin bahagia bersamamu di sini
Kutitipkan pahit kisahku untuknya
Dan seluruh rinduku tercurah hanya untukmu
Saat waktu melenyapkan segala kenangan tentangnya
Kamu akan selalu di hatiku, selalu, sepanjang waktu
Welcome to my word! Please be nice here n don't forget to follow me, k?
Replace this with ur short profile.
I haven't shoubox. But you can comment on the blog post if you want to chit-chat ^^
Kepalaku semakin terasa pening ketika lagi-lagi percakapanku dengan Mama tadi pagi kembali terngiang. Tiga hari, Mama memberiku waktu tiga hari untuk bertemu dengan orang yang akan kujadikan istriku, pasangan hidupku. Hanya tiga hari sebelum Mama memutuskan untuk menjodohkan aku dengan putri sahabatnya.
Aku bangkit dari kursiku yang nyaman itu dan menghampiri dinding kaca di belakang kursiku. Aku menatap sekeliling, gedung-gedung pencakar langit yang setinggi dan semegah perusahaanku memenuhi pandanganku. Aku mendesah dan menatap langit. Siapa? Siapa yang akan kunikahi?
Seraut wajah yang muncul di dinding kaca itu mengejutkanku. Belum sirna keterkejutanku itu, suara pemilik wajah itu memenuhi ruangan. Aku segera berputar dan semakin terkejut, hingga tubuhku reflek mundur dan menabrak dinding kaca itu, ketika pemilik suara dan wajah itu berdiri di depan mejaku.
“Anda baik-baik saja, Pak?” tanya Ellyn curiga.
Aku berdehem dan memperbaiki posisi berdiriku, hanya untuk menyelamatkan harga diriku yang terancam beberapa saat lalu. “Yah, sepertinya begitu. Ada apa?”
Aku menahan senyum ketika Ellyn menunjukkan ekspresi tidak percaya. Dia memang benar-benar mengenalku. Terlalu mengenalku, malah. Hanya saja, terkadang dia bisa sangat menyebalkan karena selalu membantahku. Bukan berarti dia memang suka membantah. Dia hanya tahu bahwa aku salah. Jadi meskipun itu menyebalkan, aku tidak punya alasan untuk balas membantahnya. Tidak perlu menjatuhkan harga diri lebih dalam lagi, bukan begitu?
“Saya hanya ingin mengatakan bahwa Pak Ryan sudah datang. Apa saya bisa langsung mempersilahkan dia masuk atau dia harus menunggu?” tanyanya sopan tapi tegas.
Sesaat aku terpesona pada gerakan ringan tangannya, entah ia sadar atau tidak, dan nada bicara yang efisien dan suaranya yang… tunggu, dia tidak sedang bernyanyi, kan? Astaga, apa yang sebenarnya terjadi padaku?
“Suruh dia masuk. Sepertinya aku memang perlu berbicara dengannya,” kataku.
Ellyn tersenyum, dan itu rasanya lebih seperti pukulan keras di perutku. Ia mengangguk pamit dan berbalik. Aku mengawasi gerak-geriknya yang efisien, tegas namun tetap anggun. Bukankah dia sempurna?
“Ellyn, tunggu,” aku memanggilnya lagi ketika dia baru membuka pintu beberapa senti. Aku berjalan menghampirinya dan setelah kami berada cukup dekat, aku menatap langsung ke matanya, yang membuatku gentar, tapi tetap nekat berkata, “Would you… ehm… marry me?”
Jika tatapan bisa membunuh, maka saat itu aku pasti sudah terbujur kaku tak bernyawa.
“Maaf, sepertinya itu bukan ide yang bagus. Permisi,” hanya itu jawabnya, lalu ia membuka pintu lebih lebar dan keluar.
Menggantikan sosok cantik nan anggun Ellyn, berdiri di depan pintuku sahabat baikku, Ryan, lengkap dengan senyuman lebarnya yang menyebalkan.
“Tidak ada cara yang lebih romantis, bung?” godanya.
Aku mengerang. “Aku perlu menghajar seseorang. Sepertinya Tuhan tahu karena dia mengirimmu,” cetusku sambil berbalik dan duduk di sofa di sudut ruangan.
Ryan tergelak. “Aku terkejut kamu baru melamar dia sekarang. Dengan cara yang sangat tidak romantis, apalagi sopan, lagi.” Ryan menggeleng simpati.
“Menurutmu kapan seharusnya aku melamarnya?” Aku mendelik galak padanya.
“Yang benar saja, Bram! Dia sudah menjadi sekretaris pribadimu selama lima, eh tidak, enam tahun. Ke mana saja kamu?”
“Entahlah. Aku terlalu sibuk mengurusi keluargaku,” balasku ketus.
Ryan mendengus. “Omong kosong. Kedua adikmu, Rietta dan Arinne, sudah menikah dan bahagia bersama pasangannya. Sementara ibumu tampaknya baik-baik saja. Kamu tahu apa masalahmu? Kamu terlalu keras pada dirimu dalam merasa bertanggung jawab pada keluargamu. Sejak Papamu meninggal, kamu semakin tidak memikirkan kehidupan sosialmu. Hanya keluarga dan perusahaan. Okelah, terkadang aku juga. Tapi itu tidak cukup, Bram. Cobalah bertanya pada hatimu, apa benar itu yang kamu inginkan?”
Aku terdiam, merenungi kata-kata Ryan. Tapi aku sudah terbiasa dengan keberadaan Ellyn. Maksudku, dia sama sekali tidak mengusikku. Aku merasa aman mempercayakan segalanya padanya. Aku merasa… hei, tunggu, sejak kapan aku merasa aman sejak Papaku meninggal? Aku mendongak dan mendapati senyum kemenangan Ryan.
“Sial,” umpatku.
“Jadi, sejak kapan?” Ryan bertanya.
“Aku sendiri sedang bertanya-tanya tentang itu,” dumelku. “Tapi…” Aku kembali teringat bagaimana caraku memintanya beberapa saat lalu. “Looser,” kataku pada diri sendiri.
“Yeah, memang,” tambah Ryan enteng.
Aku menangkup wajahku dengan kedua tanganku dan merasa sangat frustasi. Yang benar saja! Apa yang barusan kulakukan? Aku pasti telah menyakiti dan mengecewakan Ellyn. Bersikap begitu ceroboh dan pengecut. Ellyn pantas mendapatkan yang lebih baik dari itu…
“Tidak,” suara Ryan membuatku mendongak menatapnya. “Jangan bilang bahwa kamu tidak baik untuknya. Jangan mulai bersikap bodoh dan menjadi pecundang lagi, sobat. Kenapa tidak maju saja dan memintanya untuk mendampingimu? Kamu tahu yang terbaik untukmu, dan kamu tahu kamu memang baik baginya.”
Oh, tak adakah yang pernah mengatakan pada Ryan bahwa dia tampak seperti malaikat? Dan sejak kapan dia bisa membaca pikiranku? Ah, tapi peduli apa aku. Segera kuraih ponselku untuk menghubungi Mama. Tapi kemudian aku berhenti dan berpikir. Aku bangkit dan menghambur keluar untuk menemui Ellyn.
Gadis itu, seperti biasanya, menunduk di atas laporan-laporan dan entah bagaimana, masih tampak anggun. Ketika ia mendongak dan menatapku di sana, ia buru-buru berdiri dan tampak terkejut. Rona di wajahnya membuatku semakin yakin untuk bertanya, “Apa kamu juga mencintaiku, Ellyn?” Aku menatap gadis yang tampak sibuk menatap ke arah lain selain padaku itu, dan tersenyum. “Ellyn, pandang aku, tatap aku dan katakan bahwa kamu tidak mencintaiku karena aku mencintaimu, entah sejak kapan, dan aku ingin kamu menikah denganku.”
Perlahan Ellyn menarik napas panjang, lalu menatapku dan berkata, “Apa tampak sejelas itu? Apa aku semudah itu untuk dibaca? Lagipula, apakah tawaran itu masih berlaku setelah aku menolaknya?”
Aku tak dapat menahan tawaku. Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, aku memutari mejanya untuk menariknya ke dalam pelukanku, tempat di mana seharusnya ia berada.
Lalu aku mengangkat ponselku dan kali ini aku benar-benar menghubungi Mama. “Halo Ma, aku baru saja bertemu dengan jodohku. Aku tahu Mama sudah lama menunggunya. Maaf untuk itu. Tapi sepertinya putramu yang bodoh ini bahkan tidak bisa melihatnya meski dia sudah berada di sini sejak bertahun-tahun lalu.”
“Ini benar-benar konyol.” Aku mendengar Ellyn terus bergumam seperti itu dengan nada geli. “Oh, baiklah, mungkin ide pernikahan itu tidak terlalu buruk,” katanya lagi.
Untuk apa menunggunya
Jika kamu ada di sini
Untuk apa mengharapkannya
Jika harapanku aman bersamamu
Dia telah pergi
Dan takkan kuizinkan 'tuk kembali
Karena itu, tetaplah di sini
Yakinkanku kamu akan selalu di sini
Kupikir segalanya t'lah hilang bersamanya
Tapi kamu membuat segalanya tak berarti lagi
Tak penting lagi bila dia pergi selamanya
Karena aku yakin bahagia bersamamu di sini
Kutitipkan pahit kisahku untuknya
Dan seluruh rinduku tercurah hanya untukmu
Saat waktu melenyapkan segala kenangan tentangnya
Kamu akan selalu di hatiku, selalu, sepanjang waktu